Tapir Sumatera
Tapir adalah binatang herbivora yang memakan dedaunan muda di
sepanjang hutan atau pinggiran sungai. Tapir memiliki bentuk tubuh
seperti babi, telinga yang mirip badak dan moncongnya yang panjang mirip
trenggiling, sementara lenguhannya lebih mirip suara burung daripada
binatang mamalia.[1] Tapir merupakan hewan yang soliter, kecuali pada musim kawinnya. Aktivitasnya lebih banyak pada malam hari (nokturnal).
Aktivitas makan biasanya dilakukan sambil tetap terus berpindah dalam
jalur yang berpindah-pindah. Jangkauan jelajah tapir sangat luas karena
mereka cenderung berjalan jauh untuk menemukan lokasi yang kaya garam
mineral.[2]
Secara taksonomi, tapir dikelompokkan ke dalam ordo Perisodactyla
dan famili Tapiridae. Ada empat jenis tapir yang masih eksis sampai
saat ini. Tiga di antaranya bisa dijumpai di Amerika Selatan (Tapirus bairdii, Tapirus pinchaque dan Tapirus terrestris) dan hanya satu yang tersebar di Asia Tenggara (Tapirus indicus). Karena itu keberadaan tapir sering digunakan sebagai salah satu bukti teori pemisahan benua.
Sebaran tapir di Asia Tenggara meliputi bagian selatan Burma,
Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaysia dan Indonesia. Bukti-bukti
paleontologis menunjukkan bahwa dahulunya sebaran tapir meliputi Pulau
Jawa dan Sumatera. Namun saat ini di Indonesia, tapir hanya bisa
dijumpai di Sumatera, itupun hanya pada bagian selatan Danau Toba sampai
ke Lampung. Hanya ada satu catatan keberadaan tapir di bagian utara
Danau Toba yaitu di Pangkalan Berandan. Tapir umumnya dijumpai pada
hutan dataran rendah, namun beberapa catatan menunjukkan kehadirannya
pada daerah sampai ketinggian 2000 m, seperti di Gunung Tujuh (Taman
Nasional Kerinci Seblat). Tapir bisa dijumpai di hutan primer, sekunder,
campuran, kebun karet. Beberapa catatan menunjukkan kehadirannya di
kebun sawit dan melintasi pemukiman penduduk ataupun kamp petugas di
PHPA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar